Perempuan dan Tembakau | Blog

12 October

Perempuan dan Tembakau

Saat ini sekitar 200 juta perempuan merokok di seluruh dunia. Dari sekitar 5 juta orang yang meninggal terkait penggunaan tembakau setiap tahunnya, 1.5 juta diantaranya diperkirakan adalah perempuan. Sekitar 75% dari perempuan tersebut hidup di negara miskin atau negara berkembang. Jika tidak dilakukan strategi pengendalian penggunaan tembakau yang tepat, diperkirakan pada tahun 2030, setiap tahun akan ada sekitar 8 juta orang meninggal terkait penggunaan tembakau. Dari 8 juta orang tersebut, sekitar 2.5 juta diantaranya adalah perempuan. (WHO, 10 facts on gender and tobacco)

    Produsen  rokok  sudah mulai memperkenalkan rokok pada perempuan sejak awal tahun 1900-an. Dan pada Tahun 1920-an perusahaan rokok sudah mulai menargetkan perempuan sebagai pelanggan mereka. Berbagai penelitian yang panjang dan dalam dilakukan untuk memahami perempuan, agar perusahaan rokok dapat menemukan strategi yang tepat mempopulerkan rokok kepada perempuan.

    Berdasarkan hasil penelitian, berbagai strategi digunakan perusahaan rokok untuk dapat menjadikan perempuan sebagai pelanggan rokok. Promosi terbuka untuk mengenalkan rokok pada perempuan dimulai pada Tahun 1927. Perusahaan rokok besar di Amerika Serikat yang memproduksi rokok Lucky Strike memunculkan foto perempuan yang sedang merokok merek rokok tersebut di majalah perempuan. Sejak itu, perusahaan rokok dengan sangat agresif mempromosikan rokok pada perempuan sebagai sasaran. Perempuan diharapkan dapat menggantikan perokok yang telah berhenti atau meninggal karena kanker, stroke , penyakit jantung atau penyakit lain terkait tembakau. Perusahaan rokok  banyak memakai perempuan sebagai bintang iklan untuk mempromosikan rokok produksi mereka atau menjadi tenaga promosi langsung dengan penjualan rokok, yang dikenal sebagai SPG (sales promotion girl).

    Untuk mendukung dan membentuk image perempuan merokok adalah perempuan modern yang aktif dan mandiri, perusahaan rokok juga melakukan strategi promosi dengan mendanai lembaga-lembaga perempuan dan memberi dukungan dana agar perempuan dapat berpartisipasi di berbagai forum pertemuan yang mendiskusikan hal-hal penting seperti masalah lingkungan dan kemanusiaan. Dengan strategi ini, terjadi peningkatan jumlah perempuan perokok yang cukup tinggi terutama di Tahun 1990-an. Saat ini, di seluruh dunia diperkirakan sekitar 16 % remaja perempuan usia sekolah mulai merokok dan sekitar 15%  menjadi perokok sampai usia dewasa. Perempuan sudah menjadi sasaran utama perusahaan rokok. 

    Selain menjadikan perempuan sebagai bintang iklan dan tenaga penjualan rokok, perusahaan rokok juga memproduksi rokok yang lebih lembut dan ringan yang dikatakan lebih cocok dan lebih aman untuk perempuan. Istilah ‘light’ atau ‘rendah tar dan rendah nikotin’ pada rokok dipromosikan sebagai rokok yang ‘lebih aman’. Strategi ini terbukti berhasil meningkatkan jumlah konsumsi rokok pada perokok perempuan. Sekitar 63% perempuan percaya dan memilih rokok ‘light’ karena dianggap lebih aman untuk perempuan.
    Perusahaan rokok menggunakan mesin untuk mengukur kadar Tar dan Nicotin dalam rokok untuk mendapatkan rokok yang lebih ringan atau ‘light’. Tetapi manusia merokok tidak seperti mesin. Mereka yang merokok rokok ‘light’ ternyata menghisap/menarik asap lebih dalam atau lebih sering untuk mendapatkan kadar nikotin seperti yang diperlukan tubuhnya. Pada akhirnya, kadar tar dan nikotin yang masuk ke dalam tubuh sama saja dengan rokok yang bukan ‘light’. Jadi, pada kenyataannya rokok ‘light’ tidak lebih aman dari rokok biasa.
    Dampak zat yang terkandung di dalam asap rokok terhadap kesehatan sudah menjadi perhatian banyak pihak. Saat ini, dampak asap rokok tidak hanya dituliskan di dalam bungkus rokok, tetapi harus disampaikan dalam bentuk gambar sehingga lebih mudah dikenali dan dipahami. Dampak asap rokok terhadap tubuh manusia baik laki-laki dan perempuan cenderung sama, tetapi karena anatomi tubuh perempuan berbeda dengan tubuh laki-laki, asap rokok berdampak juga secara khusus kepada  perempuan terutama yang terkait dengan reproduksi. Perempuan yang merokok ternyata lebih banyak yang mengalami kemandulan dibandingkan dengan yang tidak merokok. Perempuan yang masih merokok selama kehamilan juga beresiko lebih besar untuk melahirkan bayi premature dan kematian bayi di dalam kandungan atau ketika bayi baru lahir. Asap rokok juga dapat mengurangi produksi air susu ibu/ASI. Asap rokok juga meningkatkan resiko terkena kanker serviks atau kanker rahim.
    Melihat kecenderungan meningkatnya jumlah perokok perempuan dan agresifnya perusahaan rokok mempromosikan rokok kepada perempuan, maka program pengendalian tembakau harus memasukkan strategi pengendalian tembakau terhadap perempuan. Perempuan harus lebih cerdas dan mencari cukup informasi agar dapat terhindar  dari ‘bujuk rayu’ perusahaan rokok saat ini. 


Posted by Administrator Posted on October 12, 2015