TRANSFORMASI BUDAYA 2017 | Blog

19 May

TRANSFORMASI BUDAYA 2017

Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada kita semua sehingga Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Bandung dapat menyelenggarakan kegiatan Transformasi Budaya. Tansformasi Budaya adalah peerubahan pola pikir dan budaya aparatur lama yang telah tertanam dan berakar kuat menjadi aparatur yang berintegritas, produktif, berkinerja dan berkepribadian tinggi sebagai respon dari pengaruh unsur eksternal dan internal menyangkut perubahan sosial budaya ekonomi politik masyarakat karena tidak dapat lepas dari proses perubahan baik lingkungan (fisik) maupun manusia (non fisik).

Urgensi perubahan budaya kerja di lingkungan BBKPM Bandung merupakan pelaksanaan amanat dari visi misi BBKPM Bandung yang tertuang dalam renstra 2014-2019 ini tampaknya sangat penting untuk dapat segera di terapkan di BBKPM Bandung dalam upaya meningkatkan kinerja pegawai/aparaturnya dalam menghadapi tantangan global. Untuk itu diperlukan tekad yang kuat, upaya yang tepat dan evaluasi secara terus menerus. Hal ini harus berjalan secara terencana, terstruktur, komprehensif dan berkelanjutan serta membutuhkan komitmen serta kedisiplinan yang luar biasa dari kita semua, sumber daya yang besar dan waktu yang panjang.

Tujuan dari Transformasi Budaya Kerja Menuju Pelayanan Prima BBKPM Bandung dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

1.    Secara umum diidentikkan pada perwujudan sustainabilitas (keberlanjutan) suatu sistem.

2.    Secara khusus ditujukan untuk mewujudkan kinerja yang lebih baik. dilihat dari aspek :

a.    Efisiensi dalam hal waktu (time) dan sumber daya (resources) yang dibutuhkan guna mencapai suatu outcome

b.    Efektifitas berupa kepantasan usaha yang dilakukan demi hasil yang diinginkan

c.     Responsifitas yakni bagaimana mensinkronkan antara kebutuhan dan kemampuan untuk maksud tersebut.

d.   Pembelajaran yang terindikasi pada kinerja individu, grup, organisasi dan sistem.

 

Menurut motivator acara transformasi Budaya yaitu dr Indra K Muhtadi dan Drs, Psi, Parlindungan Marpaung, MT, MA ada 10 karakteristik perubahan, yaitu:

1.      Perubahan itu misterius karena tidak mudah dipegang

2.      Perubahan memerlukan “change maker” (pembuat perubahan)

3.      Tidak semua orang bias diajak melihat perubahan, karena sebagian besar melihat persepsi sendiri

4.      Perubahan terjadi setiap saat, karena itu perubahan harus diciptakan setiap saat bukan sekali-kali. Perubahan kecil akan menggugah seseorang untuk perubahan besar

5.      Ada sisi keras (system dan teknologi) dan sisi lembut dari perubahan (manusia dan organisasi)

6.      Perubahan membutuhkan waktu, biaya dan kekuatan, perlu pematangan berpikir, berkepribadian teguh dan konsep jelas/sistematis

7.      Dibutuhkan upaya-upaya khusus untuk menyentuh nilai-nilai organisasi adalah nilai koorporat

8.      Perubahan banyak diwarnai oleh mitos, salah satunya adalah mitos kea rah yang lebih baik

9.      Perubahan menimbulkan ekspektasi/pengharapan dan karenanya pengharapan dapat menggetarkan emosi dan harapan yang bias menimbulkan kekecewaan

10.  Perubahan selalu menakutkan dan menimbulkan kepanikan-kepanikan, namun dengan teknik komunikasi yang baik dapat meningkatkan kebersamaan.

 

BBKPM Bandung menyadari betapa pentingnya perubahan pola pikir dan budaya kerja  Seiring dengan semakin berkembang dan majunya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka budaya kerja tidak hanya sebatas menjalankan rutinitas organisasi belaka namun sangat diperlukan  budaya kerja kreatif dan inovatif dalam mewujudkan visi misi organisasi. Warna Budaya Kerja yang diharapkan berupa Produktivitas, Profesionalitas yang tercermin dalam perilaku kerja (kerja keras, ulet, disiplin, tanggung jawab, dll) dengan prinsip kerja lebih cepat, lebih baik, lebih mudah dan lebih murah.

Faktor-faktor determinasi budaya kerja organisasi Pemerintah adalah KOMITMEN PIMPINAN: kegagalan program budaya kerja sebagian besar disebabkan oleh kurangnya komitmen pimpinan. KOMUNIKASI:  dalam implementasi budaya kerja, keterampilan berkomunikasi merupakan faktor terpenting dalam upaya menciptakan lingkungan yang kondusif agar nilai-nilai organisasi dapat teraktualisasi dalam sikap dan perilaku aparatur. Peran Komunikasi : Membuka benteng birokrasi yang selama ini membuat SDM terkotak-kotak sehingga komunikasi terhambat dan berarti penyebaran informasi tidak mencapai sasaran, yang akhirnya menimbulkan kesulitan dalam upaya partisipasi pengambilan keputusan. MOTIVASI: merupakan pendorong (motive) seseorang melakukan sesuatu. Dorongan tersebut dapat berasal dari dalam diri sendiri, maupun dorongan dari luar. Motivasi yang digerakkan pimpinan akan memberi bentuk dalam gaya/ style organisasi. LINGKUNGAN KERJA: lingkungan yang kondusif memberikan ruang bagi semua anggota organisasi dalam memikirkan ide-ide baru, member peluang dalam melaksanakan ide-ide tersebut, serta memberikan kenyamanan dalam beraktivitas. PERUBAHAN: empat potensi kemampuan manusia : 1. Kesadaran Diri; 2. Hati Nurani; 3. Kehendak bebas; 4. Imajinatif kreatif. Empat kemampuan tersebut kalau tidak dilatih, potensi kita akan diam saja/tidur, dan baru terbangun kalau kondisi lingkungan telah memungkinkan. DISIPLIN: Segala kebijaksanaan tidak akan berarti tanpa disiplin. Disiplin memiliki tiga macam sifat : Disiplin Preventif, dimana tindakan aparatur agar terdorong untuk mentaati standar dan peraturan, untuk mencegah timbulnya pelanggaran. Disiplin Korektif, tindakan yang dilakukan setelah terjadi pelanggaran standar/peraturan, untuk mencegah timbulnya pelanggaran lebih lanjut. Disiplin Progresif, tindakan disipliner berulangkali yang berupa hukuman yang makin berat, agar pelanggar bisa memperbaiki diri. Disiplin ini juga berkaitan dengan kemampuan aparatur dalam memahami pengertian jam kerja, urusan pribadi, orientasi kerja, dll yang berkaitan dengan hak dan kewajibannya sebagai aparatur pemerintah.

Membangun Budaya Kerja Positif dan Profesional. Membangun budaya kerja sama saja dengan membangun diri sendiri bagi setiap individu, yang berkaitan dengan cara bersikap terhadap pekerjaan apa saja yang dihadapinya. Perubahan sikap dan perilaku positif dalam bekerja akan menghasilkan mutu kerja yang baik serta pelayanan masyarakat yang optimal. Untuk itu perlu diawali dengan pendidikan termasuk sosialisasi yang merata dalam segenap unsur masyarakat dan pemerintah dengan aparaturnya. Hal-hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan oleh aparatur pemerintah adalah semangat, sikap dan perilaku dalam menyelesaikan pekerjaan, jujur, etos kerja tinggi, bertanggung jawab, meningkatkan mutu/kualitas diri, menjalin kerjasama yang baik, profesional dan disiplin.  Dalam upaya transformasi budaya kerja ini, yang terpenting adalah upaya menghilangkan paradigma lama yang bermalasan dan bersantai dalam bekerja, hindari semangat bekerja karena mengharapkan jabatan tertentu dan tidak mau bekerja karena tugas atau balasan yang didapat tidak sesuai keinginan, berhentilah menganut paham “Asal Bos Senang” karena sekecil apapun porsi kita dalam  organisasi dan sebagai apapun posisi kita dalam organisasi kita tetap dituntut berkerja secara professional, tanamkan semangat dan etos kerja tinggi dalam diri, karena orang yang maju dan sukses adalah mereka yang memiliki semangat kerja tinggi, tidak sibuk “mencari muka”, terus meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri, disiplin dan bekerja secara profesional, serta tidak sibuk dengan urusan yang bukan menjadi bagiannya.

Transformasi Budaya terselenggara karena kegiatan ini sudah direncanakan dalam RKAKL 2017 serta   bantuan dari berbagai pihak, seperti PT Neyka Sari Pratama, PT Airindo, PT Megah Alkesindo, PT Intisumber Hasil Sempurna, PT Rajawali Nusindo, Tim Unit Pengendalian Gratifikasi yang telah memeriksa barang-barang dari sponsor, serta segenap panitia yang telah bekerja keras demi suksesnya kegiatan ini.

 

Kami menyadari bahwa penyelenggaran transformasi budaya  ini masih banyak kekurangan baik dalam penyajian acara/materi, pelayanan administrasi maupun keterbatasan fasilitas. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

 

Akhir kata semoga transformasi budaya ini bermanfaat bagi kita semua sehingga mampu mewujudkan perubahan pola pikir  dan budaya kerja pegawai BBKPM Bandung/Garut/Cianjur  dalam memberikan pelayanan kesehatan paru yang lebih baik, berkelanjutan dan berkualitas sesuai dengan perkembangan Ilmu dan Teknologi kesehatan.

 

Ketua Panitia Transformasi Budaya tahun 2017

Rita Sri Rahayu, S.Si, MKM

 

Posted by Administrator Posted on May 19, 2017