BENARKAH DKM MENJADI PEMICU TINGGINYA PENDERITA HIV DI KECAMATAN ASTANA ANYAR KOTA BANDUNG. | Blog

18 May

BENARKAH DKM MENJADI PEMICU TINGGINYA PENDERITA HIV DI KECAMATAN ASTANA ANYAR KOTA BANDUNG.

Bandung, 3 Mei 2018.

Perubahan gaya hidup di perkotaan kerap menjadi pemicu tumbuhnya satu penyakit, demikian pernyataan yang disampaikan H. Suparjo, S.SOS Sekretaris Camat Astana Anyar Kota Bandung dalam pembukaan acara Sosialisasi Penanggulangan HIV AIDS dan TB Paru di wilayah kecamatan Astana Anyar Kota Bandung, 3 Mei 2018. Gaya hidup yang dimaksud dengan istilah DKM bukanlah singkatan dari Dewan Keluarga Mesjid, namun beliau lebih menekankan perihal maraknya tempat hiburan malam diwilayah kerjanya di kecamatan Astana Anyar ini. DKM yang dimaksud adalah Diskotik Karauke dan Massage.  Pada acara yang dihadiri sekitar 50 undangan terdiri dari perwakilan Polsek Astana Anyar, Lurah dan Ibu- ibu Kader wilayah Kecamatan Astana Anyar. Penyelenggara mengundang dua narasumber dr Indria Sari Thaher, MM dari BBKPM Bandung dan Tuti Sugiarti, Amd dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Bandung.

Seperti diketahui Kecamatan Astana Anyar ini menyumbang 26% dari populasi sebesar 4000 penderita  HIV di kota Bandung. Kecamatan Astana Anyar terletak di pusat kota Bandung yang memiliki tempat hiburan malam sebanyak 18 tempat, tersebar di seputar jalan Cibadak, Sudirman, Kalipah Apo, Otista dan Astana Anyar.  Tempat hiburan ini berupa Diskotik, Karaoke dan Panti pijat. Tempat hiburan ini mempekerjakan sekitar 290 orang. ( sumber: Kantor Kecamatan Astana Anyar dan KPA Kota Bandung)

Dalam pemaparannya Tuti Sugirti, Amd dari KPA kota Bandung menganjurkan agar masyarakat tidak segan-segan untuk melakukan pemeriksaan HIV agar memudahkan dalam penanggulangan penyebarannya. Beberapa Puskesmas bahkan telah menyediakan pemeriksaan HIV secara gratis. Virus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia ini ditularkan melalui cairan darah, cairan kelamin dan Air susu. Cairan ini dapat menularkan bila orang terinveksi HIV ini cairannya masuk kedalam tubuh orang lain.  Cara penularan dapat melalui Tranfusi darah, penggunaan narkoba suntik dan cairan kelamin. Akan tetapi untuk transfusi darah yang pengadaannya melalui PMI aman karna sudah melalui tes kesehatan.  Kemudian dijelaskan untuk pencegahannya dengan cara tidak melakukan hubungan sex dengan penderita HIV tanpa alat pengaman, setia pada pasangan dan bagi ODHA yang mau hamil harus ikut program PMTCT( Prevention Mother to Child Transmission) / pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Dijelaskan pula bahwa ada 3 Fase perubahan HIV menjadi AIDS yang dikenal dengan :

1.      Periode Jendela : yaitu fase mulai tertular HIV ( 3-6) bulan

2.      HIV+                   : yaitu fase dimana pasen merasa baik2 saja selama 3-10 tahun

3.      AIDS                     : dimana fase  pasen sudah merasakan penurunan daya tahan tubuh.

AIDS tidak menular melalui ciuman, pelukan, toilet/WC, sentuhan, alat makan, nyamuk atau tinggal serumah. Perlakuan bagi ODHA/Orang dengan HIV/AIDS :

1.      Setiap ODHA mempunyai hak hidup dan social yang sama dengan orang yang sehat

2.      ODHA tak boleh mendapat stigma(pandangan buruk) dari masyarakat

3.      Pengucilan terjadi karena kurangnya pemahaman tentang penularan HIV.

Pada kesempatan lain dr Indria Sari Thaher, MM menjelaskan bahwa Tuberkulosis yang telah dicanangkan dunia bebas Tuberkulosis pada tahun 2050, kini justru mengalami peningkatan kembali. Indonesia yang pernah menduduki peringkat 5 dunia kini malah naik peringkat 2 dunia dalam temuan TB.  Venomena gunung es bahkan dapat memungkinkan ditemukan lebih besar dari data yang dimiliki, mengingat stigma negative  masyarakat pada Tuberkulosis masih dirasakan pada masyarakat Indonesia. Keluarga penderita Tuberkulosis masih menganggap aib yang harus ditutupi. Peningkatan kasus Tuberculosis juga dipicu dengan meningkatnya temuan penderita HIV. Hal ini disebabkan pada penderita HIV mengalami penurunan kekebalan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit lain termasuk Kuman TBC. Banyak kasus penderita TBC yang ternyata juga penderita HIV

Untuk temuan kasus TBC Yang berobat di BBKPM Bandung dalam 4 tahun terahir dapat dilihat dalam daftar berikut :

TAHUN 2014

118 ORANG

TAHUN 2015

136 ORANG

TAHUN 2016

158 ORANG

TAHUN 2017

166 ORANG

 

Dari data ini dapat kita simpulkan terjadi peningkatan temuan penderita TBC di wilayah kecamatan Astana Anyar dalam kurun waktu 2014 s/d 2017 yang berobat di BBKPM Bandung . Namun demikian data tersebut tidak serta merta diinterpretasikan akibat tingginya angka HIV di wilayah Kecamatan ini, karna belum tentu seluruh atau bahkan sebagian penderita TBC yang berobat di BBKPM Bandung adalah pengidap HIV.  Walaupun tidak dapat dipungkiri penurunan daya tahan tubuh pada penderita HIV menyebabkan ODHA ini rentan tertular kuman TBC, dengan demikian ODHA yang sekaligus penderita TBC berpotensi menularkan Kuman ini pada yang lainnya. Hal ini akan lebih jelas bila dilakukan penelitian lebih lanjut hubungan sebab akibat antara TBC dan HIV di wilayah Kecamatan Astana Anyar dengan data2 pendukung yang lebih akurat misalnya dengan menggabungkan dengan data2 yg dimiliki pelayanan kesehatan lainnya di wilayah Kecamatan Astana Anyar.  (SGT)

Posted by Humas Posted on May 18, 2018