GAMBARAN TB PARU ANAK DENGAN GIZI BURUK | Blog

04 July

GAMBARAN TB PARU ANAK DENGAN GIZI BURUK

GAMBARAN TB PARU ANAK DENGAN GIZI BURUK

 

Hilda Prasanti Nugraheni, AMG

Instalasi Gizi BBKPM Bandung

 

Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah kesehatan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada anak. Dilaporkan dari berbagai negara persentase temuan kasus TB pada anak berkisar antara 3% sampai >25%.1 Sumber penyebaran tuberkulosis umumnya adalah orang dewasa dengan sputum basil tahan asam positif, sehingga penanggulangan tuberkulosis ditekankan pada pengobatan tuberkulosis dewasa. Akibatnya penanganan tuberkulosis anak kurang diperhatikan. Anak yang terinfeksi TB tidak selalu akan mengalami sakit TB tetapi tetap mempunyai risiko tinggi untuk menjadi sakit sebesar 10% - 25%.2,3

   Salah satu faktor yang memengaruhi anak sakit TB diantaranya adalah status gizi. Status gizi sangat berperan penting. Anak dengan gizi buruk akan mengakibatkan kekurusan, lemah dan rentan terserang infeksi TB.3 Kelompok usia paling rentan terhadap masalah gizi karena penyakit infeksi yaitu usia balita. Mereka mempunyai risiko lebih besar mengalami progresi infeksi menjadi sakit TB karena imunitas selulernya belum berkembang sempurna (imatur).3 Sebanyak 60% anak dengan TB mengalami gizi kurang/gizi buruk.1,2 Hasil berbagai penelitian menyatakan bahwa status gizi mempunyai hubungan yang signifikan serta berpengaruh terhadap kejadian TB paru.2,4 Anak yang sering terkena infeksi dan kekurangan gizi akan mengalami gangguan tumbuh kembang yang akan memengaruhi tingkat kesehatan, kecerdasan dan produktivitas di masa dewasa. Penyakit tuberkulosis anak berpotensi menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari kasus gagal tumbuh, kecacatan, bahkan kematian, tergantung pada organ tubuh yang diserang serta beratnya kasus.3,4

            Status gizi dan penyakit tuberkulosis anak merupakan dua hal saling berkaitan erat. Beberapa kepustakaan menyatakan bahwa penderita tuberkulosis anak sering disertai malnutrisi.1,2 Status gizi yang buruk dapat memengaruhi tanggapan tubuh berupa pembentukan antibodi dan limfosit terhadap adanya kuman penyakit. Pembentukan ini memerlukan bahan baku protein dan karbohidrat, sehingga pada anak dengan gizi buruk produksi antibodi dan limfosit terhambat. Setiap bentuk gangguan gizi terutama gizi buruk dapat menyebabkan gangguan imunologi dan memengaruhi proses penyembuhan penyakit.6,7 Di bawah ini dijelaskan mengengai hubungan beberapa faktor penyebab malnutrisi.5


Kondisi gizi buruk disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, faktor pola asuh, kurangnya ketersediaan pangan, lingkungan tidak sehat, serta akses ke pelayanan kesehatan kurang memadai dapat menjadi penyebab seorang anak mengalami malnutrisi.7 Keadaan ini diperberat asupan makanan kurang memenuhi syarat gizi seimbang serta tidak higienis. Jadi, gizi buruk merupakan masalah KEP (Kurang Energi dan Protein) tingkat berat yang timbul setelah proses yang berlangsung cukup lama disebabkan karena asupan gizi tidak adekuat, penyakit infeksi, disertai dengan pola asuh yang kurang memadai (2).7,8 Penderita gizi buruk atau anak sangat kurus harus dirawat inap di rumah sakit. Prinsip tatalaksana gizi buruk menurut WHO yang kemudian diadaptasi oleh Kementerian Kesehatan RI terdiri dari 10 langkah meliputi 3 fase yaitu stabilisasi, rehabilitasi, dan tindak lanjut.4,6,7

Kenyataan di lapangan menunjukkan berbagai kendala dalam merawat penderita gizi buruk di rumah sakit maupun puskesmas.  Penatalaksanaan anak gizi buruk secara rawat dapat dijadikan alternatif menangani gizi buruk dengan harapan lebih optimal. Kasus gizi buruk yang dapat ditangani secara rawat jalan adalah gizi buruk tanpa tanda kegawatdaruratan medis hipoglikemia, hipotermia atau dehidrasi. Penanganan rawat jalan ini menitikberatkan pada kegiatan pengobatan penyakit penyerta, terapi diet serta penyuluhan gizi dan kesehatan dalam suatu progam kegiatan selama sekitar 6 bulan.7,8

Pemberian makanan tambahan merupakan ‘pengikat’ ibu untuk datang sesuai jadwal yang ditentukan. Intervensi gizi sedini mungkin, berupa pemberian Pangan Olahan untuk Keperluan Gizi Khusus (PKGK) pada anak gizi kurang / gizi buruk disertai infeksi TB secara rutin dan teratur, diketahui dapat memberikan dampak positif baik jangka pendek maupun jangka panjang terhadap pertumbuhan, perkembangan dan penyembuhan penyakit penyerta. Penelitian lain menunjukkan bahwa penambahan mineral mix pada penderita gizi buruk dengan penyakit penyerta seperti infeksi TB sesuai yang dianjurkan dalam pedoman WHO terbukti dapat meningkatkan keberhasilan pemulihan gizi buruk rawat jalan. 6,8

 

DAFTAR PUSTAKA

1.    Cissy B. Kartasasmita. Epidemiologi Tuberkulosis Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Padjadjaran/RS Hasan Sadikin, Bandung. Sari Pediatri, Vol. 11, No. 2, Agustus 2009.

2.    Aulia Husna, Finny Fitry Yani, Machdawaty Masri. Gambaran Status Gizi Pasien Tuberkulosis Anak Di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. 2016; 5(1)

3.    Kamalina Yustikarini, Magdalena Sidhartani. Faktor Risiko Sakit Tuberkulosis Pada Anak Yang Terinfeksi Mycobacterium Tuberculosis. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi, Semarang. Sari Pediatri, Vol. 17, No. 2, Agustus 2015.

4.    Setyanto DB, Rahajoe NN. Diagnosis Tuberkulosis Pada Anak. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi Ke-1. Jakarta: IDAI. 2008. H. 200-11

5.    Jahiroh, Nurhayati Prihartono. Hubungan Stunting Dengan Kejadian Tuberkulosis Pada Balita. RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok. The Indonesian Journal of Infectious Disease.

6.    Depkes RI. Buku Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Buku 1. Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Binkesmas, Depkes; 2006

7.    Fadia, Murdoyo, Ety Dan Dian. Manajemen Anak Gizi Buruk Tipe Marasmus Dengan TB Paru. J Medula Unila Volume 6 Nomor 1 Desember 2016.

8.      Arnelia, Astuti Lamid, Rika Rachmawati. Pemulihan gizi buruk rawat jalan dapat memperbaiki asupan energi dan status gizi pada anak usia di bawah tiga tahun. Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol. 7, No. 3, Maret 2011: 129-135.



Posted by Humas BBKPM Bandung Posted on July 4, 2021