PENANGANAN SPESIMEN URIN UNTUK PEMERIKSAAN NARKOBA | Blog

04 July

PENANGANAN SPESIMEN URIN UNTUK PEMERIKSAAN NARKOBA

PENANGANAN SPESIMEN URIN UNTUK PEMERIKSAAN NARKOBA

 

Dian Tami Priska Dewi

Instalasi Laboratorium BBKPM Bandung

 

 

Pemilihan spesimen yang tepat adalah komponen penting untuk investigasi toksikologi.. Sama halnya dengan uji laboratorium lain, salah satu hal yang paling penting adalah faktor pra analitik.

Faktor pra analitik adalah variabel yang terjadi sebelum pengujian spesimen. Di dalamnya termasuk persiapan pasien, pengumpulan spesimen, penanganan, dan penyimpanan spesimen. Petugas kesehatan di luar laboratorium klinis bertugas untuk mengontrol faktor-faktor tersebut sehingga diperlukan komunikasi antar bagian dan pelatihan yang memadai tentang prosedur yang benar untuk memastikan spesimen yang diperoleh berkualitas tinggi.

Informasi spesifik tentang pengumpulan dan penanganan spesimen harus disebutkan di awal setiap prosedur yang tercantum dalam manual. Formulir pendaftaran yang berisi daftar permintaan pemeriksaan harus menentukan jenis spesimen urin yang akan dikumpulkan. Formulir harus menyertakan informasi seperti identifikasi pasien, tanggal dan waktu pengumpulan spesimen, jenis pemeriksaan, informasi tentang apakah spesimen telah didinginkan sebelumnya, kondisi saat spesimen diterima di laboratorium dan saat dilakukan pemeriksaan, informasi khusus yang mungkin dapat mempengaruhi hasil analisis.

Pada area identifikasi pasien berisi informasi tentang nama pasien, jenis kelamin, usia atau tanggal lahir pasien, sumber spesimen dan waktu pengumpulan spesimen, dokumentasi tetantang persiapan pasien (misalnya puasa atau obat-obatan yang akan mengganggu pemeriksaan), jenis dan volume spesimen, dan kebutuhan akan wadah steril atau buram harus disertakan. Penyalahgunaan narkoba menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat besar di dunia

Urin, serum, saliva, keringat, dan rambut dapat digunakan untuk tes narkoba. Urin adalah cairan tubuh yang sering digunakan untuk pemeriksaan penyalahgunaan narkoba yang murah, non-invasif, dan cepat. Selain itu, urin memiliki sensitifitas dan spesifitas yang adekuat untuk mendeteksi obat-obatan, dan memiliki waktu deteksi yang lebih lama dibandingkan serum.

Berikut beberapa contoh jenis narkoba dan waktu deteksinya di dalam urin.

Jenis narkoba

Waktu deteksi

Amphetamine

2-3 hari

Benzodiazepines

Jangka pendek  : 3-5 hari

Jangka panjang : sampai 30 hari

Cannabis

Pemakaian sekali : 2 hari

3 kali seminggu    : 2 minggu

Pemakaian setiap hari : 2-4 minggu

Pemakaian berlebih : 4-6 minggu (sampai 12 minggu)

Cocaine

1-5 jam (metabolit 2-4 hari)

Heroin dan morphine

3     Hari


Kriteria untuk pengujian validitas urin telah diusulkan. Setelah memeriksa integritas sampel, hasil skrining positif harus dikonfirmasi. Beberapa faktor pengganggu pemeriksaaan diantaranya pengenceran sampel, penggantian urin dengan cairan lain, pemalsuan urin dengan penambahan zat asing perlu dihindari. Sejumlah tindakan juga perlu dilakukan untuk memperoleh spesimen yang berkualitas tinggi.

Untuk tes narkoba pada urin, biasanya memerlukan minimal 30 ml urin (atau tergantung tipe kit yang digunakan) yang dikumpulkan secara personal. Memberikan informasi mengenai tata cara pengumpulan sampel urin yang baik harus dilakukan sebagai persiapan pasien.

Wadah penampung yang biasa digunakan adalah wadah plastik dengan tutup ulir (tanpa pengawet). Wadah penampung sangat disarankan merupakan wadah baru atau sudah disterilisasi. Pelabelan dilakukan dengan memberi identitas yang jelas pada wadah penampung yang berisi informasi nomor kasus atau nomor laboratorium, nama pasien, tipe sampel, tanggal dan waktu pengambilan spesimen.

Dalam pemeriksaan tes narkoba ini, spesimen yang sudah dikumpulkan harus selalui disertai dengan formulir permintaan. Spesimen yang telah dikumpulkan akan dikirimkan ke laboratorium untuk dilakukan pengujian. Saat pengiriman, spesimen harus dalam pengawasan untuk menjaga dan memastikan integritas sampel. Biasanya spesimen ini akan disimpan pada suhu 4˚C selama proses pengiriman.

Pengujian tes narkoba ini biasanya dilakukan segera setelah spesimen urin diterima di laboratorium. Hanya saja, kebanyakan laboratorium akan menyimpan urin untuk beberapa waktu, biasanya 7 hari. Hal ini dilakukan agar urin masih dapat dilakukan pengulangan tes apabila diperlukan atau ada hasil yang tidak sesuai.

Diketahui bahwa konsentrasi zat narkoba pada urin berubah seiring dengan waktu penyimpanannya. Proses penyimpanan ini tentu saja sangat penting untuk diperhatikan untuk menjaga kualitas sampel urin dan menjaga stabilitas metabolit yang ada didalamnya. Sampel biasanya disimpan pada suhu yang tidak tentu selama proses pengiriman ke laboratorium, dan laboratorium toksikologi diwajibkan untuk menjaga sampel biologis pada waktu yang telah dintukan agar dapat digunakan untuk pengulangan jika dibutuhkan.

Sampel biologis, dalam hal ini urin, untuk analisis toksikologi biasanya disimpan pada suhu ruang selama pengiriman, penerimaan, dan pendaftaran. Penyimpanan sampel pada suhu 4˚C biasa dilakukan untuk skrining narkoba dan konfrimasi tes. Untuk tujuan forensik, sampel dapat dibekukan untuk penyimpanan yang lebih lama. Beberapa faktor seperti waktu penyimpanan dan suhu dapat mempengaruhi stabilitas narkoba.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

[1]  Delanghe, J. R., & Speeckaert, M. M. (2016). Preanalytics in urinalysis. Clinical Biochemistry, 49(18), 1346-1350. https://doi.org/10.1016/j.clinbiochem.2016.10.016

[2]  Dinis-Oliveira, R. J., Vieira, D. N., & Magalhães, T. (2016). Guidelines for collection of biological samples for clinical and forensik toxicological analysis. Forensik Sciences Research, 1(1), 42-51. https://doi.org/10.1080/20961790.2016.1271098

[3]  Lin, S., Lee, H., Lee, J., & Chen, B. (2018). Urine spesimen validity test for drug abuse testing in workplace and court settings. Journal of Food and Drug Analysis, 26(1), 380-384. https://doi.org/10.1016/j.jfda.2017.01.001

[4]  Taskinen, S., Beck, O., Bosch, T., Brcak, M., Carmichael, D., Fucci, N., George, C., Piper, M., Salomone, A., Schielen, W., Steinmeyer, S., & Weinmann, W. (2017). European guidelines for workplace drug testing in urine. Drug Testing and Analysis, 9(6), 853-865. https://doi.org/10.1002/dta.2178

[5]  Dixon, R. B., Mbeunkui, F., & Wiegel, J. V. (2015). Stability study of opioids and benzodiazepines in urine samples by liquid chromatography tandem mass spectrometry. Journal of Analytical Science and Technology, 6(1). doi:10.1186/s40543-015-0057-2

[6]  Kapur, B. M., & Aleksa, K. (2020). What the lab can and cannot do: Clinical interpretation of drug testing results. Critical Reviews in Clinical Laboratory Sciences, 57(8), 548-585. doi:10.1080/10408363.2020.1774493.













Posted by Humas BBKPM Bandung Posted on July 4, 2021